Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna “baik” dan “damai”. Intinya, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran (Depdikbud, 1985:850) namun manusia di bekali oleh Tuhan dengan berbagi kekurangan dan kelebihan, salah satunya adalah egois. Egois terkadang mengalahkan semua hal yang ada di depan kita, yang kita pandang adalah sesuatu yang hanya mengauntungkan diri kita saja, yang lebih parah lagi adalah jka egois dapat mengalahkan kepentingan orang lain yang menjadi titik balik dari kerukunan yaitu pertengakaran.
Pada intinya, setiap individu menginginkan dan mendambaan kerukunan, karena setiap individu merasa nyaman dengan apa yang di sebut kerukunan. Atau dengan kata lain tidak ada satupun individu yang menginginkan dan mendambakan ketidakrukunan. Pertanyaannya adalah mengapa setiap orang yang menginnginkan terjadinya kerukunan terkadang melakukan sesuatu yang membuat problematika yang menghambat bahkan mengahancurkan terjadinya kerukunan?.
Agamakah Penyebab Ketidakrukunan ?
Judul buku Perang Suci Atas Nama Tuhan: Dalam Tradisi Barat dan Islam (terjemahan dari: The Holy War Idea in Western and Islamic Tradition) karya James Turner Johnson (1997) dan Berperang demi Tuhan: Fundamentalisme Dalam Islam, Kristen, dan Yahudi (terjemahan dari: The Battle for God) karya Karen Armstrong (2000), dan judul lain yang senada dengan itu, menjadi indikator bahwa ada kaitan antara “ketidakrukunan” dengan “agama”. Namun untuk menjawab pertanyaan apakah agama sebagai penyebab ketidakrukunan, sulit juga, karena relatifnya batasan pengertian “agama” bagi masing-masing penganut agama. Misalnya saja ketika melihat kasus “Palestina”, sebahagian masyarakat Islam di Indonesia menyikapi hal itu sebagai perang agama (antara Yahudi dan Islam), sehingga melahirkan sikap antipati kepada Yahudi dan simpati kepada masyarakat Palestina, bukan hanya sampai disitu, malah umat Islam (terutama mahasiswa), berdemo menentang siapapun yang memihak kepada Yahudi, sehingga Amerika menjadi sasaran karena dianggap berada di belakang Yahudi dalam kasus “Palestina”.
Di Indonesia, salah seorang yang pernah mendapat serangan kemarahan mereka adalah Gusdur, karena mengungkapkan keinginan membuka hubungan diplomatik dengan Yahudi. Gusdur pun mendapat tantangan keras karena keinginannya itu. Hal ini terjadi di kalangan masyarakat seagama terlebih lagi di kalangan masyarakat yang berbeda agama. Padahal, Palestina sama sekali tidak identik dengan Islam, karena ternyata penduduknya terdiri dari berbagai penganut agama, termasuk Kristen. Semua mereka sama-sama ikut berjuang melawan Israel.
Ini merupakan sebuah contoh saja, betapa beragamnya defenisi yang dibuat orang tentang agama, khususnya Islam. Terkadang perbedaan persepsi dikalangan masyarakat penganut agama yang sama terhadap “agamanya” bukan hanya mempersulit merumuskan jawaban dari pertanyaan di atas, -bahkan mungkin mencari jawaban itupun tidaklah begitu penting-akan tetapi hal itu selalu menjadi penyebab ketidakrukunan dikalangan masyarakat seagama.
Beberapa hal yang mungkin menyebabkan kita tidak rukun adalah:
1. Di Indonesia, kasus ketidak rukunan antar agama terjadi antara Muslim dan Kristian lebih mengemuka dibanding antara Muslim dengan masyarakat Hindu dan Budha atau antara Kristian dengan agama lainnya.
2. Sebagai agama yang serumpun dengan agama Islam, agama Yahudi tidak ada penganutnya di tanah air, tetapi issu ketidak rukunan kaum Mulim dengan Yahudi menjadi issu yang mengalihkan perhatian sehingga kasus Muslim dan kristian terabaikan sebagai kasus utama yang mesti didiskusikan menyangkut ketidak rukunan umat beragama di Indonesia.
3. Di kalangan Muslim baik kelompok intelektual maupun kelompok non intelektual masing-masing mempunyai persepsi terhadap gerakan kristian yang dipandang sebagai pemicu ketidak rukunan.
4. Di kalangan masyarakat non intelektual berkembang faham bahwa non Islam termasuk Kristian adalah orang kafir, tersesat dan bila mati pasti masuk neraka. Pandangan ini tentu bukan semata-mata berasal dari mereka sendiri, tetapi hasil pengetahuan mereka yang juga tentunya berasal dari tunjukan guru-guru agama, pengkhotbah atau ulama senior dan terakhir mungkin pula berasal dari para intelektual Muslim sendiri. Seandainya faham semacam itu berasal dari kalangan ulama atau intelektual Muslim tentulah hal itu berasal dari keyakinan teologis akibat dari pemahaman terhadap sumber dasar ajaran Islam itu yakni Al-Quran. Misalnya dalam al-Quran ada ayat yang mengungkap “Bahwa agama yang di sisi Allah adalah Islam”. Penjelasan eksklusif terhadap kata “Islam” inilah yang membuat kesan bahwa umat Islam adalah umat yang istimewa dalam pandangan Tuhan. Apalagi ditambah dengan faham bahwa kitab suci Al-Quran adalah kitab terorisinil dibanding kitab suci semua agama yang ada di dunia ini. Sejalan dengan itu ada lagi pemahaman bahwa al-Quran adalah kitab terakhir dengan Muhammad sebagai utusan Tuhan terakhir, bertugas sebagai penyempurna kitab2 sebelumnya termasuk kitab suci umat Kristian; dan lain sebagainya…Padahal di kalangan intelektual Muslim yang terhitung moderat juga mengalami krisis kecurigaan kalau tidak dapat dikatakan ketidak percayaan terhadap Kristian berkaitann dengan Missi yang di arahkan kepada masyarakat yang sudah memeluk agama terutama Islam, padahal kenyataan ini bertentangan dengan substansi hukum kita yang di dalamnya memelihara kerukunan. Perkawaninan pria Kristian dengan wanita Muslim yang kemudian berujung dengan ikutnya si wanita beserta anaknya ke agama suami atau ayahnya juga menjadi bahan ketersinggungan masyarakat Muslim sungguhpun ia di golongkan kepada Muslim intelektual. Banyak cara lain yang dilihat sebagai kekalahan mayoritas terhadap minoritas ini yang menjadi pemicu ketidakrukunan.
Kompleksitas permasalahan ini mendorong kita untuk menerangkan lebih dalam sejumlah pertanyaan, antara lain:
1. Mengapa perlu rukun ?
2. Mengapa umat beragama yang perlu rukun ?
3. Bagaimana umat beragama menerjemahkan kerukunan?
4. Bagaimana kaitan kerukunan dengan “berperang demi agama”?
5. Bagaimana kaitan kerukunan dengan tingkat pemahaman umat beragama terhadap agamanya?
6. Bagaimana kaitan kerukunan dengan tingkat pengamalan umat beragama terhadap agamanya?
7. Bagaimana kaitan kerukunan dengan politisasi agama? Atau agama politis?
Pada intinya, tulisan di atas mencoba untuk mengajak kita agar tidak merasa bahwa saya adalah yang ”ter”, yang paling, dan yang sangat. Di samping itu penafsiran secara mendalam yang tidak sepihak juga sangat di perlukan terhadap masalah-masalah agama yang di kahwatirkan bisa menjadi pemicu timbulnya ketidakrukunan. Dan yang terpenting kita harus sadar bahwa sebenarnya tidak ada satu individupun yang menyadari bahwa ketidakrukunan adalah sesuatu yang yang menyenangkan.
Rabu, 01 April 2009
Rabu, 25 Maret 2009
Langganan:
Komentar (Atom)