detik itu menyatu,
walau kabar tentang hatiku belum sampai padamu.
di antara deru angin lalu.
ada kekecewaan besar, tentang perpisahan itu.
aku telah berteriak pada Tuhan untuk menghentikan waktu.
aku telah bercerita padaNya tentang kisah itu.
namun Dia cemburu saat mengetahui aku bagitu mencintaimu
aku bingung?
aku kini hanya akan menjadi aku.
menghentikan waktu adalah hal percuma karena Tuhan telah cemburu.
mengehntikan waktu hanya akan membuatku terlalu pilu.
kemudian pada akhirnya, aku hanya akan terkesima pada kegilaanku mencintaimu.
menangis itu perlu.
bahkan aku meneriakan namamu dalam bawah sadarku
tapi tak usah risau, kita masih tidur pada malam yang sama, masih bernafas pada udara yang sama. dan masih berada pada bumi yang sama.
dan jika kau rindu, katakan saja kerinduan itu padaku, lewat malam, udara dan bumi yang menjadi pijakanmu.
aku yang hidup dengan nafas cintamu
Jumat, 31 Oktober 2008
Senin, 22 September 2008
Kau seperti sang embun yang sejukan aku bumimu.
Aku menunggumu sekian lama, menghabiskan nafas panjang penantian.
Aku bersemedi di antara lumut kebosan dan akar kerinduan.
Dan saat kau hadir.
Seperti ada dua mentari yang terbit pagi ini.
Tak ada kata yang terungkap saat pertama ku melihatmu.
Kau seperti hadirkan lagi jiwaku yang telah lama layu.
Seperti halnya hujan yang turun di atas tanah seribu tahun kemarau.
Tutur katamu seperti kalimat agung yang terucap dari mulut malaikat
dan tatapanmu kini memikatku
Dan hanya dengan sedikit senyuman yang mungkin bukan untukku aku jatuh cinta padamu.
Dia tersenyum seperti seorang malikat kecil tanpa sayap.
Dia merenung seperti genangan air yang tak bergerak.
Kemudian tertawa dan membawa bahagia di hati siapapun yang mau melihatnya.
Dia seorang anak kecil berwajah manis yang di ciptakan Tuhan hanya untuk di kagumi.
Di jaga dengan dan di pandang.
Dan dia hanya di cintai tanpa menyentuhnya.
Dia mutiara Tuhan yang terjatuh dari langit tanpa di sengaja.
Kemudian menjadi kecambah cinta yang bersemedi di hati para pecintanya.
Aku menunggumu sekian lama, menghabiskan nafas panjang penantian.
Aku bersemedi di antara lumut kebosan dan akar kerinduan.
Dan saat kau hadir.
Seperti ada dua mentari yang terbit pagi ini.
Tak ada kata yang terungkap saat pertama ku melihatmu.
Kau seperti hadirkan lagi jiwaku yang telah lama layu.
Seperti halnya hujan yang turun di atas tanah seribu tahun kemarau.
Tutur katamu seperti kalimat agung yang terucap dari mulut malaikat
dan tatapanmu kini memikatku
Dan hanya dengan sedikit senyuman yang mungkin bukan untukku aku jatuh cinta padamu.
Dia tersenyum seperti seorang malikat kecil tanpa sayap.
Dia merenung seperti genangan air yang tak bergerak.
Kemudian tertawa dan membawa bahagia di hati siapapun yang mau melihatnya.
Dia seorang anak kecil berwajah manis yang di ciptakan Tuhan hanya untuk di kagumi.
Di jaga dengan dan di pandang.
Dan dia hanya di cintai tanpa menyentuhnya.
Dia mutiara Tuhan yang terjatuh dari langit tanpa di sengaja.
Kemudian menjadi kecambah cinta yang bersemedi di hati para pecintanya.
Langganan:
Komentar (Atom)